Nyadran Di Cepagan

Nyadran adalah salah satu adat di Desa Cepagan dalam bentuk kegiatan tahunan di bulan ruwah (sya’ban), dari mulai bersih-bersih makam leluhur, masak makanan tertentu, seperti apem, bagi-bagi makanan, dan acara selamatan atau disebut kenduri. Nama nyadran sendiri berasal dari kata Sradha – nyradha – nyradhan, kemudian menjadi nyadran.’

sambutan Kepala Desa Cepagan di Makam Dukuh karangjati

Nyadran merupakan reminisensi dari upacara sraddha Hindu yang dilakukan pada zaman dahulukala.
Upacara ini dilakukan oleh orang Jawa pada bulan Jawa-Islam Ruwah sebelum bulan Puasa, Ramadan, bulan di mana mereka yang menganut ajaran Islam berpuasa.

Hery Kiswanto selaku Kades  Desa Cepagan mengatakan”adat ini harus kita jaga dan lestarikan, kegiatan nyadran tersebut tidak semua desa memiliki”

Masyarakat Cepagan memilih waktu ini tentu tidak sembarangan. Ada keyakinan yang melatar-belakanginya. Jika tidak, mereka akan melakukannya di sepanjang tahun tanpa mengenal batas waktu. Dan karena itulah mereka menyebut bulan sya’ban sebagai bulan ruwah. Bulan untuk mengirim doa bagi para arwah leluhur. Bagian yang perlu kita garis bawahi di sini, nyadran dilakukan di setiap bulan sya’ban.

Nyadran di Desa Cepagan antar Makam Berbeda –beda , nyadran makam pucung dukuh Krajan Rabu pon di bulan Jumadil Akhir, nyadran dukuh Botoan Rabu Kliwon Jumadi Akhir, dukuh Cepagan Lor Rabu pahing bulan Rajab dan

Makam Karangjati dan Makam Blumbang dukuh Kebaron  , Jumat Kliwon bulan rajab

 

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan