Legenanan (Sedekah Bumi) di Desa Cepagan

Cepagan – dalam menyambut bulan legeno masyarakat di Desa Cepagan mengadakan sedekah bumi atau yang lebih di kenal  legenonan

Tradisi ini sudah dilakukan setiap tahunnya oleh Desa Cepagan, Tradisi adalah suatu adat atau kebiasaan yang sudah ada sejak dulu,  tradisi di teruskan secara turun menurun dari generasi ke generasi sehingga warisan budaya tetap ada.

Sedekah bumi  atau sering disebut Slametan Legenan merupakan salah satu tradisi yang masih di lestarikan tiap tahunnya oleh Desa Cepagan, diadakan tiap satu tahun sekali tepatnya bulan legeno. Bulan legeno itu sendiri adalah bulan yang pada system penanggalan Jawa atau disebut bulan Dzulqoidah

Menurut  sesepuh  Desa  Cepagan pada umumnya kegiatan Legenan itu sebagai  tanda syukur atas karunia Allah SWT , yang telah menciptakan bumi beserta isinya, yang kita manfaatkan dalam kehidupan sehari – hari.

Dalam  kegiatan slametan sedekah bumi atau yang biasa disebut legenan di Desa  Cepagan di laksanakan di  masing – masing pedukuhan, yaitu dukuh Krajan, Kebaron, Botokan, Karangjati dan cepagan lor. Pelaksanaan kegiatan tersebut biasanya  warga berkumpul bersama dengan membawa nasi berkat, ditempatkan di rumah pemangku wilayah atau Kepala Dusun ataupun di musholla yang disepakati bersama waga. Diisi dengan kegiatan membaca suratul yasin dan tahlil bersama, dan ditutup dengan do’a

Kadus Dk. Karangjati “Kholidin”

‘’Kadus Kholidin, mengatakan ‘’ bahwa Legenanan atau sedekah  bumi adalah symbol rasa syukur masyarakat terhadap Allah, atas hasil yang di peroleh selama satu tahun. Beliau juga menyampaikan bahwa pelaksanaan legenan sekarang lebih simple dari pada pelaksanaan legenan pada jaman dahulu.

Dahulu setiap legenan banyak sesaji yang harus disiapkan dari berbagai macam hasil bumi diantaranya : nasi golong, segala jenis bubur, panggang ayam, panggang burung gemek/ puyuh, kebo segluntung, kambing segluntung, segala  jenis ikan air tawar, ikan air laut, polo gumantung, polo kependem,  segala jenis sayuran,  dan semua hasil bumi yang yang dikonsumsi dalam kehidupan sehari – hari.

Sesaji tersebut ditempatkan di rumah tokoh adat,selain itu juga di letakkan  dalam lengkong atau kotak semacam besek kemudian di letakkan di setiap sudut rumah tokoh Adat atau Kadus dan juga Pamong Desa, juga di letakkan di setiap perbatasan wilayah Dukuh atau Dusun.  Kemudian malam harinya warga berbondong – bondong datang ke tokoh adat dengan membawa nasi beserta lauk yang di tempatkan di ceting, berdoa bersama, lalu tokoh Adat tersebut mengambil sebagian dan dikumpulkan jadi satu, kemudian dinikmati bersama – sama.

H. Darsomo yang memimpin jalannya pembacaan surah yasin dan tahlil

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan