Mengenal Tradisi Barian Di Desa Cepagan

Cepagan – dalam menyambut bulan Sapar masyarakat di Desa Cepagan mengadakan Barian atau yang lebih di kenal  Saparan (Selasa,15 Oktober 2019)

Tradisi ini sudah dilakukan setiap tahunnya oleh Desa Cepagan, Tradisi adalah suatu adat atau kebiasaan yang sudah ada sejak dulu,  tradisi di teruskan secara turun menurun dari generasi ke generasi sehingga warisan budaya tetap ada.

Barian merupakan salah satu tradisi yang masih di lestarikan tiap tahunnya oleh Desa Cepagan, diadakan tiap satu tahun sekali tepatnya di bulan sapar

Barian tersebut di adakan di perdukuhan yang terdapat perempatan jalan, kebetulan di perdukuhan Desa Cepagan terdapat dua Dukuh yang memiliki perempatan jalan, yaitu Dukuh karangjati dan Dukuh Boto’an.

Acara barian biasahnya di adakan pada hari rabu pon atau jumat kliwon

Kadus Dukuh Karangjati (Bpk Kholidin)

Dalam sambutan Kadus Dukuh Karangjati(Bpk Kholidin) “Barian ini sudah ada sejak dulu, sebelum saya jadi Kadus Dukuh Karangjati, saya meneruskan tradisi ini, biasahnya barian dilaksanakan di dukuh yang ada perempatan jalan, di Desa Cepagan ada dua Dukuh yaitu Dukuh karangjati dan Dukuh Botoan”

Sebelumnya saya minta maaf apabila dalam mengadakan slametan barian ini kurang banyak kekurangan, karena dahulu barian di adakan di perempatan jalan namun karena kondisi sekarang berbeda dengan jaman dahulu, sekarang banyak kendaraan yang lalu lalang melewati jalan jadi saya tempatkan di lapangan badminton deketdengan perempatan, dikandung maksud agar tidak menggangu pengguna jalan, dahulu  slametan barikan bagi warga yang rumahnya menghadap ke utara membawa nasi kuning, rumah menghadap ke selatan membawa kupat lepet,  rumah yang menghadap ke barat membawa nasi tidar dan yang rumah menghadap ke timur membawa ketan srondeng.’’tuturnya’’

Dalam acara tersebut di isi bacaan Yasin dan Tahlil, dan di khususkan kepada Arwah para sesepuh yang babat Dukuh karangjati.

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan